
Putrakepri.com, Batam — Kondisi kawasan mangrove di Tanjung Piayu Laut, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam, mendapat perhatian mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) yang berdomisili di kawasan tersebut.
Mahasiswa UMRAH itu mengaku prihatin atas informasi mengenai dugaan pembabatan dan penimbunan kawasan yang sebelumnya ditumbuhi vegetasi mangrove. Menurutnya, keberadaan mangrove tidak semestinya hanya dipandang sebagai lahan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan.
“Saya sebagai mahasiswa UMRAH sekaligus warga yang berdomisili di Tanjung Piayu tentu prihatin melihat kondisi ini. Mangrove bukan hanya soal pohon, tetapi juga bagian dari ekosistem pesisir yang memiliki fungsi penting bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Ia menegaskan, pembangunan tetap dapat dilakukan, namun harus berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan lingkungan. Setiap aktivitas penimbunan maupun pemanfaatan kawasan pesisir, kata dia, perlu dipastikan memiliki dasar perizinan yang jelas serta sesuai dengan ketentuan lingkungan yang berlaku.
“Kita tidak menolak pembangunan. Tetapi pembangunan jangan sampai mengorbankan lingkungan sekitar. Kalau memang ada aktivitas penimbunan, pemerintah harus memastikan status lahannya, perizinannya, serta dampaknya terhadap aliran sungai dan ekosistem mangrove di sekitar lokasi,” katanya.
Ia juga meminta Pemerintah Kota Batam melakukan pengecekan langsung ke lapangan guna memastikan kondisi sebenarnya. Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan laporan masyarakat maupun informasi yang beredar di media sosial.
“Kami berharap Pemerintah Kota Batam turun langsung ke lapangan dan melakukan pengecekan. Ketika ditemukan pelanggaran, tentu harus ada tindak lanjut sesuai aturan yang ada,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar persoalan lingkungan tidak baru mendapat perhatian setelah menimbulkan dampak yang lebih besar. Menurutnya, pembangunan Kota Batam harus tetap mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan demi kepentingan generasi mendatang.
“Jangan sampai setelah kerusakan terjadi dan menimbulkan bencana, baru kita sibuk mencari solusi. Kota Batam memang membutuhkan pembangunan, tetapi kita juga harus memikirkan kota ini untuk generasi berikutnya. Jangan sampai hari ini kita mendapatkan pembangunan, tetapi kami generasi selanjutnya yang menerima dampak kerusakan lingkungannya,” pungkasnya.(pk/red)
![]()


