Opini, Shepia Widianingrum, Mahasiswa Sosiologi 2020, Universitas Maritim Raja Ali Haji
Putrakepri.com, Tanjungpinang – Menurut Coser, konflik merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok.
Konflik merupakan bentuk tidak sejalannya pendapat antara individu dan individu, individu dan kelompok atau kelompok dan kelompok. Konflik sering timbul disebabkan adanya ketimpangan yang terjadi di masyarakat. seperti adanya kesenjangan terhadap status sosial, adanya kurang pemerataan kemakmuran dan munculnya diskriminasi terhadap manusia.
Konflik merupakan hal yang selalu terjadi di lingkungan sosial. Setiap orang pasti pernah mengalami konflik, konflik pada diri sendiri, konflik kepada orang lain, dan konflik dengan kelompok. Pada awalnya konflik ini selalu membawa keburukan pada sistem sosial. Pada awalnya individu dengan individu yang lain memiliki hubungan yang baik, namun setelah terjadinya konflik hubungan individu anatar individu yang lain menjadi rusak.
Dari adanya konflik bisa memiliki dampak negatif dan positif. Tetapi kebanyakan orang beranggapan bahwa konflik itu selalu berdampak negatif. Dampak dari konflik bisa berdampak positif juga. Konflik yang bisa berdampak positif itu bisa membuat orang lain semakin akrab dan semakin memperkuat antar hubungan satusama lain.
Konflik yang terjadi pada kelompok dan individu, Anggota di dalam kelompok yang mengalami konflik kepada orang lain pasti memperkuat hubungan kepada anggota kelompoknya untuk membela anggota kelompok yang berkonflik terhadap orang lain tersebut.
Hubungan anggota kelompok semakin kuat apabila permasalah yang terjadi semakin besar. Apabila di dalam anggota kelompok tersebut memiliki penyimpangan dan tidak dapat di toleransi maka anggota kelompok itu akan di peringatkan dan di berikan teguran terhadap anggota kelompok yang lain.
Adanya kelompok luar atau anggota luar bisa menyebabkan semakin kuatnya hubungan di dalam anggota kelompok, Fungsi dari konflik eksternal juga dapat untuk memperkuat kekompakkan dari dalam dan meningkatkan moral kelompok, sehingga kelompok-kelompok dapat memancing peran jahat dengan kelompok luar atau menciptakan musuh dengan orang luar agar mempertahankan atau meningkatkan solidaritas dari dalam kelompok.(Shepia Widianingrum, Mahasiswa Sosiologi 2020, Universitas Maritim Raja Ali Haji)
![]()









